Sabtu, 07 Mei 2016

Cara Berpikir Gajah

Cara Berpikir Gajah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ketika teman saya sedang melewati gajah, ia tiba-tiba berhenti, bingung dengan makhluk-makhluk besar yang diikat oleh tali kecil pada kaki depan mereka. Gajah tidak rantai, juga tidak dikandang. Sudah jelas gajah bisa melepaskan diri kapan saja dari tali yang mengikat gajah tersebut. Teman saya bertanya ke pelatih yang ada didekatnya, kenapa hewan-hewan besar (gajah) itu tidak berusaha melarikan diri, padahal itu adalah sangat mudah untuk gajahlakukan.

?Yah,? kata pelatih gajah, ?ketika gajah-gajah itu masih sangat muda dan jauh lebih kecil, kami mengikat gajah tersebut menggunakan tali ukuran kecil yang pada usia saat itu cukup untuk menahan gajah tersebut. Ketika gajah-gajah itu tumbuh, gajah-gajah itu dikondisikan untuk percaya bahwa gajahtersebut tidak dapat melepaskan diri dari ikatan itu. Gajah itu percaya bahwa tali yang kecil itu masih bisa menahan mereka, sehingga gajah-gajah tersebut tidak pernah mencoba membebaskan diri.

Teman saya kagum. Gajah ini bisa setiap saat melepaskan diri dari ikatan mereka tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak bisa, mereka berdiam diri. Gajahtersebut terjebak dengan apa yang mereka percayai.

Sepert
... baca selengkapnya di Cara Berpikir Gajah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Sabtu, 30 April 2016

Wiro Sableng #148 : Dadu Setan

Wiro Sableng #148 : Dadu Setan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DADU SETAN

SATU

Malam hari di pantai Losari. Walau angin bertiup cukup kencang dan udara dingin, air laut tampak tenang. Sejak senja sebuah kapal kayu besar berbendera merah bergambar naga hitam telah melego jangkar di perairan Tanjung Losari. Pada saat malam bertambah gelap karena bulan separuh lingkaran tertutup awan, dari pintu di lambung kapal sebelah kanan keluar dua orang bertubuh tinggi tegap, berpakaian dan berikat kepala serba putih. Orang pertama masih muda, bertampang keren, berkumis kecil. Di sampingnya berdiri seorang lelaki berusia lanjut, kakek memelihara janggut dan kumis menjulai sampai di bawah dagu, berwarna hitam karena dicat. Kedua orang ini sama-sama memiliki alis tinggi mencuat, bermata sipit dan berkulit kuning.

Saat itu sebuah tangga telah terpasang, menghubungi pintu di kapal dengan sebuah sampan yang sejak petang hari telah merapat di perut kapal kayu. Sampan ini ditunggui seorang pendayung berpakaian hitam. Or
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #148 : Dadu Setan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Jumat, 15 April 2016

Si Gadis Kecil

Si Gadis Kecil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Puluhan burung-burung kecil terbang di bawah langit biru yang indah dengan kicauan merdu mereka. Seorang gadis kecil seperti malaikat tesenyum dengan pakaian putih yang amat kusam, rambut panjang yang lurus dan kulit yang berwarna kuning langsat. Ia telah diabaikan kedua orang tuanya satu tahun yang lalu ketika ia masih berumur sembilan tahun. Gadis itu kini sendiri hanya puluhan burung yang telah menemaninya.

Di belakang gedung Taman kanak-kanak itulah gadis kecil tidur, makan dan bermain bersama burung-burung kecil. Tak mudah baginya mencari makan, ia terkadang meminta-minta dan membantu mencuci piring di pedagang-pedangang yang berada di pinggir jalan. Terkadang juga sehari ia hanya memakan satu bungkus nasi dari upah kerjanya mencuci piring. Namun, ia tetap bisa tersenyum dan bersemangat dengan hidupnya. Ia juga selalu membagi makanannya kepada burung-burung itu, tak heran kalau mereka selalu mendekati gadis kecil ini.

Terdengar bel dari Taman kanak-kanak yang menandakan waktunya pulang. Gadis itu muncul dan mengintip anak-anak yang berlari dan memeluk ibu mereka masing-masi
... baca selengkapnya di Si Gadis Kecil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Kamis, 14 April 2016

Mujur atau Malang?

Mujur atau Malang? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ada sebuah cerita Cina kuno tentang seorang laki-laki tua yang sikapnya dalam memandang kehidupan berbeda sama sekali dengan orang-orang lain di desanya.

Rupanya laki-laki tua ini hanya mempunyai seekor kuda, dan pada suatu hari kudanya kabur. Para tetangganya datang dan menaruh belas kasihan kepadanya, mengatakan kepadanya betapa mereka ikut sedih karena kemalangan yang menimpanya.

Jawabannya membuat mereka heran.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.

Beberapa hari kemudian kudanya pulang, dan ikut bersamanya dua ekor kuda liar. Sekarang si laki-laki tua punya tiga ekor kuda. Kali ini, tetangga-tetangganya mengucapkan selamat atas kemujurannya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemujuran?" dia menjawab.

Pada hari berikutnya, sementara sedang berusaha menjinakkan salah seekor kuda liar, anak laki-lakinya jatuh dan kakinya patah.

Sekali lagi, para tetangga datang, kali ini untuk menghibur si laki-laki tua karena kecelakaan yang menimpa anaknya.

"Tapi bagaimana kalian tahu itu kemalangan?" dia bertanya.

Kali ini, semua tetangganya menarik kesimpulan bahwa pikiran si tua kacau dan tidak ingin lagi berurusan dengannya.

Walaupun demikian, keesokan harinya pengu
... baca selengkapnya di Mujur atau Malang? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Selasa, 12 April 2016

Melihat Terang

Melihat Terang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang Guru Budha bertanya kepada murid-muridnya: ‘Kapan anda tahu bahwa kegelapan itu hilang dan berubah menjadi terang?’

Seorang murid setelah membungkuk memberikan rasa hormat kepada sang guru, menjawab; ‘Saya tahu bahwa kegelapan itu berubah menjadi terang ketika saya perlahan-lahan mampu melihat suatu benada di kejauhan, dan saya tahu pasti bahwa itu adalah seekor binatang.’ Sang Guru menggelengkan kepala.

Seorang murid lain bangkit berdiri memberikan jawaban; ‘Saya tahu bahwa kegelapan itu berubah menjadi terang ketika di kejauhan saya perlahan-lahan mampu melihat suatu benada dan saya tahu bahwa itu adalah sebatang pohon. Lebih dari itu, saya mampu melihat buah di atas pohon tersebut, dan dari buahnya saya bisa tahu secara pasti nama pohon tersebut.’ Sang Guru memperhatikan muridnya tersebut lalu menggelengkan kepala.

Setelah hening beberapa saat, sang Guru berkata; ‘Apabila anda mampu melihat ke dalam mata seseorang dengan penuh rasa belas kasih, dan dari pancaran mata itu anda mampu mengenal bahwa ia adalah saudaramu, bahwa ia adalah saudarimu, saat itulah anda telah berada dalam terang.’


... baca selengkapnya di Melihat Terang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Sabtu, 23 Maret 2013

PENGENCERAN

prinsipnya bahwa kecepatan = dosis / pengenceran misalnya, 

Dobutamin dosisnya kan 5 - 10 mcg/kgbb/menit kita mau pake spuit 50 cc syring pump kita hitung dosisnya, misal kita mau pake yang 5 mcg/kgbb/menit, jadinya kan ... misal BB= 50 kg deh dosis---> 5 x 50 = 250 mcg/ menit ---> 250 x 60= 15000 mcg/jam ( dijadiin jam dunk, kan syringe pump settingannya pake ml/jam ) pengenceran--> dobutamin tuh 1 ampulnya 250 mg/ 5 cc, mo kita pake spuit 50 cc so 250 mg/50 cc--> sama dengan 5 mg/cc = 5000mcg/cc dijadiin mcg biar sinkron ama dosisnya yah) jadinya kecepatan syringe pumpnya = 15000/5000 = 3 cc/jam sekarang Dopamin dosisnya: 10 mcg/ kgbb/menit sediaan : 200 mg/10cc misal, BB= 50 kg dosis = 10 x 50 x 60 mcg/jam = 30.000 mcg/jam pengenceran = 200 mg/50 cc = 4 mg/cc = 4000 mcg/ cc kecepatannya = 30.000/4000 = 7.5 cc / jam Morphine dosis = 10 -20 mcg/kgbb/ jam sediaan = 10 mg/cc misal, BB=50 kg dosisnya , = 10 x 50 = 500 mcg/jam pengenceran = 10 mg / 50 cc = 0.2 mg/cc = 200 mcg/cc kecepatan = 500/200 = 2.5 cc/jam gampang kan? sekali laghi speed sama dengan dosis dibagi pengenceran, yang harus diingat tentunya satuannya mesti sama ya, semoga membantu...c u

SEJARAH ANESTHESI SPINAL

Penggunaan kokain pertama kali dilakukan oleh Carl Koller, ophthalmologist dari Wina sebagai kokain topikal untuk analgesia mata pada tahun 1884. Pada tahun 1885 , Gaedickle berhasi mendapatkan kokain dalam bentuk ester asam benzoat yang diisolasi dari tumbukan koka (Erythro seylon coca) yang banyak tumbuh di Pegunungan Andes. William Halsted dan Richard Hall, ahli bedah di Roosevelt Hospital di New York City, selangkah lebih maju dengan ide menyuntikkan anestesi lokal kokain ke jaringan manusia dan saraf untuk menghasilkan anestesi untuk operasi. James Leonard Corning, seorang ahli saraf di New York City, menggambarkan penggunaan kokain untuk anestesi spinal pada 1885. Corning pertama menyuntikkan kokain intratekal kepada seekor anjing dan dalam beberapa menit anjing telah mengalami kelemahan di bagian belakangnya. Berikutnya, Corning menyuntikkan kokain ke manusia di interspace T11-T12 ke dalam ruangan yang dia pikir adalah ruang subarachnoid. Karena Corning tidak melihat efek apapun setelah 8 menit, dia mengulangi injeksi. Sepuluh menit setelah injeksi kedua, pasien mengeluhkan lemah di kakinya, namun mampu berdiri dan berjalan. Pungsi dural dijelaskan oleh Paul Wynter pada tahun 1891 diikuti segera oleh Heinrich Quincke 6 bulan kemudian. Augustus Karl Gustav Bier, seorang ahli bedah Jerman, menggunakan 3 ml kokain 0.5% intrathecal pada enam pasien untuk pembedahan ekstremitas bawah pada tahun 1898, dan pada tahun 1908 dia memperkenalkan anestesi regional inatravena ( Bier’s Blok). Dengan metode ilmiah yang benar, Bier memutuskan untuk percobaan pada dirinya sendiri dan meneliti Post Dural Puncture Headache (PDPH). Asistennya, Dr Otto Hildebrandt, meneliti efek injeksi kokain intratekal dan kejadian PDPH tersebut. Setelah injeksi kokain intratekal ke Hildebrandt, Bier melakukan percobaan pada bagian bawah tubuh Hildebrandt dengan memberi tusukan jarum dan membakar cerutu ke kaki, incisi di paha, avulsi rambut kemaluan, pukulan kuat dengan palu besi ke tibia, dan torsi testis. Hildebrandt melaporkan rasa sakit minimal atau tanpa rasa sakit selama percobaan, namun ia mengalami mual, muntah. Bier mengaitkan PDPH dengan hilangnya LCS dan merasakan penggunaan jarum kecil akan membantu mencegah sakit kepala. Dudley Tait dan Guido Caglieri melakukan anestesi spinal pertama di San Francisco, Amerika Serikat pada 1899. Mereka melakukan penelitian menggunakan cadaver, binatang, dan pasien hidup untuk menentukan manfaat dari pungsi lumbal, terutama dalam pengobatan sifilis. Tait dan Caglieri menyuntikkan garam merkuri dan iodida ke dalam LCS. Rudolph Matas, seorang ahli bedah vaskuler di New Orleans, menjelaskan penggunaan kokain intratekal dan pertama kali menggunakan morfin dalam ruang subarachnoid. Matas juga menggambarkan komplikasi kematian setelah pungsi lumbal. Theodore Tuffier, seorang ahli bedah Prancis di Paris, meneliti anestesi spinal dan melaporkan penelitiannya pada tahun 1900. Tuffier menyatakan bahwa kokain tidak harus disuntikkan sampai cairan cerebrospinal. Tuffier mendemonstrasikan anestesi spinal di Paris dan mempopulerkan anestesi spinal di Eropa. Arthur Barker, seorang profesor bedah di University of London, melaporkan kemajuan teknik anestesi spinal pada tahun 1907, termasuk penggunaan anestesi lokal hiperbarik, kemajuan sterilitas, dan kemudahan teknik median daripada paramedian. Kemajuan sterilitas dan penyelidikan mengenai penurunan tekanan darah setelah injeksi anestesi spinal membuat anestesi spinal lebih aman dan lebih populer. Gaston Labat adalah pendukung kuat dari anestesi spinal di Amerika Serikat dan melakukan studi awal tentang efek posisi Trendelenburg terhadap tekanan darah setelah anestesi spinal. George Pitkin berusaha untuk menggunakan anestesi lokal hypobaric untuk mengontrol ketinggian level anestesi spinal dengan mencampur prokain dengan alkohol. Lincoln Sise, ahli anestesi di Klinik Lahey di Boston,. menggunakan teknik Barker dengan agen anestesi lokal hiperbarik baik dengan prokain maupun tetrakain. Anestesi spinal menjadi semakin populer dengan perkembangan baru yang terjadi, termasuk pengenalan anestesi Sadel Block oleh Adriani dari Romawi pada tahun 1946. Puncak popularitas anestesi spinal di Amerika Serikat terjadi di tahun 1940, namun kekhawatiran mengenai defisit neurologis dan komplikasi yang disebabkan menyebabkan dokter anestesi untuk menghentikan penggunaan anestesi spinal. Perkembangan agen anestesi intravena dan agen blok neuromuskuler bertepatan dengan penurunan penggunaan anestesi spinal. Pada 1954 Dripps dan Vandam menerangkan keamanan anestesi spinal pada lebih dari 10.000 pasien, disinilah mulainya kebangkitan spinal anestesi. Perkembangan awal jarum spinal merupakan awal pengembangan anestesi spinal. Corning menggunakan jarum emas yang memiliki titik bevel pendek, kanula yang fleksibel, sekrup set yang terfiksasi dan introducer bagi jarumnya. Quincke menggunakan jarum miring yang tajam dan berongga. Bier mengembangkan jarum yang tajam yang tidak memerlukan sebuah introducer. Jarum tersebut memiliki diameter yang lebih besar (15-gauge atau 17-gauge) dengan bevel yang panjang. Masalah utama dengan jarum Bier adalah rasa sakit pada insersi dan hilangnya anestesi lokal karena lubang besar di dura setelah pungsi dural. Jarum Barker tidak memiliki kanula di dalamnya, terbuat dari nikel, dan memiliki bevel tajam dengan stilet yang sesuai. Labat mengembangkan jarum nikel yang tajam, dengan bevel yang pendek. Labat percaya bahwa bevel pendek meminimalkan kerusakan pada jaringan ketika jarum dimasukkan. Herbert Greene menyadari bahwa kehilangan dari CSF merupakan masalah utama dalam anestesi spinal dan mengembangkan jarum ujung halus, jarum ukuran kecil yang mengakibatkan insiden PDPH lebih rendah. Barnett Greene menjelaskan bahwa penggunaan jarum 26-gauge dalam kebidanan akan menurunkan kejadian PDPH. Jarum Greene sangat populer sampai diperkenalkannya jarum Whitacre. Hart dan Whitacre menggunakan jarum pencil-point untuk mengurangi PDPH dari 5-10% sampai 2%. Sprotte memodifikasi jarum Whitacre dan mempublikasikan penelitiannya lebih dari 34.000 anestesi spinal pada tahun 1987. Modifikasi dari jarum Sprotte pada tahun 1990-an itulah yang sampai saat ini digunakan untuk anestesi spinal.